DPO.Sudah sepantasnya bagi seorang anak untuk berbakti kepada
orangtua yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Namun, bukan hal aneh jika ada juga seorang anak yang justru membalas kebaikan
orangtuanya dengan hal-hal yang buruk dan menjadi anak yang durhaka serta penuh
dendam.
Sampai saat ini, setidaknya ada kasus kriminal 8 anak paling jahat dan
durhaka di dunia ,dimana kelakuan jahat mereka sangat sadis dan mengerikan
sampai nekat membunuh kedua orang tuanya sendiri.
Bary Dale Loukaitis pertama kali membunuh ketika usianya
masih 14 tahun. Ia pergi ke sekolah dengan memakai pakaian koboi sambil membawa
tas. Namun, tak disangka bahwa isi tas yang dibawa Barry bukan alat tulis dan
buku tetapi merupakan senapan berburu dan pistol milik ayahnya.
Tidak hanya
itu, Barry juga membawa 78 pak amunisi dalam tasnya.
Saat berada di sekolah, tiba-tiba Barry menembak dengan
membabi buta di kelas matematika sehingga menimbulkan banyak korban. Korban
akibat tembakan membabi buta Barry adalah dua orang siswa tewas dan satu siswa
dinyatakan kritis berat. Barry bahkan menembak guru matematikanya, Leona Caires
di dadanya.
Masih belum merasa cukup, Barry si anak jahat juga sempat
menyandera seorang siswa selama
kurang lebih sepuluh menit sampai kemudian ia
diringkus oleh guru olahraga yang bernama John Lane. Akibat kejahatannya, Barry
dihukum penjara seumur hidup sebanyak 2 kali ditambah dengan hukuman penjara
selama 205 tahun. Dan kecil kemungkinan mendapatkan pembebasan bersyarat.
2. Robert dan Jeffrey Dingman
Robert dan Jeffrey Dingman adalah kakak beradik psiko yang
memutuskan untuk membunuh orangtuanya sendiri, hanya gara-gara persoalan sepele
karena mereka menganggap bahwa orangtuanya terlalu cerewet dan mereka harus
menerapkan aturan yang menyebalkan. Keduanya tega melakukan kejahatan tersebut
setelah merencanakan pembunuhan terlebih dahulu.
Setelah merencanakan aksi kejahatan dengan matang, keduanya
kemudian memutuskan untuk menembak mati orangtuanya. Tembakan pertama yang
mengarah kepada orangtuanya dilakukan oleh sang adik Jeffrey. Namun, karena
tembakan tersebut hanya melukai orangtuanya, sang kakak Robert kemudian
menembak kembali orangtuanya hingga dipastikan ia benar-benar tewas.
3. Jon Venables dan Robert Thompson
Jon Venables dan Robert Thompson adalah dua anak durhaka
yang penuh dendam asal Liverpool, Inggris dan telah melakukan kejahatan pidana
serius terhadap seorang balita bernama James Patrick Bulger yang masih berusia
2 tahun. Keduanya melakukan penculikan, penyiksaan bahkan pembunuhan sekaligus.
Tidak tanggung-tanggung, keduanya menculik balita tersebut dari supermarket
yang saat itu sedang bersama ibunya.
Kemudian, keduanya membawa balita tersebut ke balik rel
kereta api yang jaraknya sekitar 4 km dari supermarket. Di rel kereta api itu
keduanya lalu menendang, memukul dan melempari balita malang tersebut dengan
batu.
Masih belum cukup, keduanya bahkan membunuh korban dengan
cara memotong-motong tubuh korban. John Venables dan Robert Thompson tertangkap
setelah polisi menemukan bukti-bukti dari rekaman CCTV bahwa keduanya terlihat
jelas dalam rekaman kamera sedang menggandeng tangan dan membawa pergi balita
malang tersebut.
Namun, Jon Venables dan Robert Thompson tidak dihukum
penjara karena Inggris tidak memiliki undang-undang yang mengatur tentang
hukuman untuk anak di bawah umur. Karena itulah keduanya hanya ditahan di rumah
sakit jiwa sampai mereka berusia 18 tahun.
Kilas balik dasar hukumnya, Jon Venables dan Robert Thompson
melakukan kejahatan tersebut saat berusia 10 tahun sehingga keduanya hanya
ditahan di rumah sakit jiwa selama 8 tahun. Saat ini diketahui mereka berdua
sudah dibebaskan dan mendapatkan identitas baru agar tidak menjadi amuk massa
dari para tetangga ataupun keluargan korban.
Daniel Bartlam tega membunuh ibunya sendiri karena
terispirasi oleh cerita opera sabun yang berjudul 'Coronation Street'. Entah
apa yang merasukinya, pembunuhan yang dilakukan Bartlam tidak
tanggung-tanggung. Dia membunuh ibunya dengan cara yang terbilang sangat kejam
yaitu dengan memukulkan palu kepada ibunya dari kepala dan seluruh badan
berkali-kali hingga sang ibu tewas mengenaskan.
Setelah ibunya tewas, Bartlam bahkan berusaha untuk
menghilangkan bukti kejahatannya dengan cara membakar tubuh ibunya bersama dengan
rumahnya. Kepada polisi dia mengaku bahwa ada seorang penyusup di rumah mereka
yang membunuh ibunya. Namun, Polisi tak mudah dikecohkan begitu saja oleh
Daniel Bartlam. Berkat bantuan penyelidikan detektif, Daniel akhirnya mengakui
perbuatannya dan menerima hukumannya dengan patuh yaitu hukuman penjara minimal
16 tahun.
Joshua Phillips merupakan pelaku pembunuhan Maddie Clifton
yang saat itu masih berusia 8 tahun. Awalnya, kasus hilangnya Maddie Clifton
yang terjadi di Florida ini hampir tidak meninggalkan jejak sama sekali, trik
kejahatannya nyaris sempurna. Sehingga meskipun polisi sempat memeriksa dan
menginterogasi beberapa orang yang diduga tersangka, polisi kembali membebaskan
mereka karena kurangnya bukti.
Polisi bahkan sempat mengumumkan untuk menghentikan
pencarian Maddie, namun keputusan tersebut ditolak oleh masyarakat sekitar dan
sukarelawan yang ada. Pencarian Maddie dihentikan ketika ibu Joshua menemukan
mayat Maddie Clifton yang malang itu di kamar putranya, Joshua Phillips.
Ibu Joshua yang bernama Melissa saat itu sedang membersihkan
kamar anaknya. Melissa mengaku curiga karena melihat ada cairan yang keluar
dari bawah kasur. Betapa terkejut dirinya, saat melihat bahwa mayat maddie ada
di bawah kasur sehingga saat itu juga Melissa berlari panik keluar sambil
berteriak histeris minta tolong.
Setelah tertangkap dan dintrogasi, Joshua mengakui bahwa
dirinya mencekik Maddie menggunakan kabel telepon, memukulinya dengan alat
pemukul baseball dan menusuknya sebanyak 11 kali. Atas perbuatannya, Joshua pun
dihukum seumur hidup.
Marcelo Pesseghini, bocah berumur 13 tahun asal Brazil ini
tega membunuh seluruh anggota keluarganya dengan cara menembak mereka dengan
pistol milik ayahnya yang diketahu seorang anggota Polisi. Marcelo membunuh
seluruh keluarganya pada malam hari saat semua anggota keluarganya berkumpul
dan sedang asyik menonton TV di ruang tamu.
Ia menembak kedua orangtuanya, nenek serta bibinya dengan
pistol milik ayahnya kemudian keesokan harinya ia berangkat ke sekolah dengan
wajar seolah-olah tidak pernah ada kejadian mengerikan tersebut. Namun,
disebutkan bahwa pada akhirnya Marcelo menyesali perbuatannya sehingga ia pun
bunuh diri menggunakan pistol yang sama yakni milik ayahnya.
Tidak seperti anak-anak lainnya yang mendapat kasih sayang
dan perhatian penuh dari orangtuanya, Marry Bell hidup dengan cara yang tidak
biasa. Terlahir dari rahim wanita tuna susila yang melahirkannya. Saat berusia
17 tahun membuat Marry Bell menjadi anak yang tidak diinginkan. Sejak Marry
Bell kecil ibunya telah berusaha untuk membunuhnya dengan berbagai cara mulai
dari memberinya obat tidur sampai menjatuhkannya dari jendela.
Tidak hanya itu, sang Ibu durhaka bahkan tega menjual MaryBell kepada para pria pedofil sehingga Mary Bell tumbuh menjadi anak yang jahat
dan penuh dendam. Karena latar belakangnya tersebut, jiwa psiko Mary Bell mulai
tumbuh saat usianya 11 tahun, ia pun membunuh seorang balita bernama Martin
Brown dengan cara mencekiknya.
Setelah Martin Brown, tiga bulan kemudian Mary Bell bersama
anak durhaka lain yakni Norma Bell menyiksa dan mencekik balita bernama Brian
Howe. Tak cukup sampai disini saja, mereka bahkan juga mengukir perut balita
malang tersebut dengan huruf M serta memotong alat kemaluannya.
Dan selanjutnya mereka tertawa puas melihat bayi malang itu
menangis sampai akhirnya mati. Atas perbuatannya, Mary Bell beserta Norma Bell
ditahan di rumah sakit jiwa sampai berusia 23 tahun, kemudian mereka baru boleh
dibebaskan tentu dengan pembebasan bersyarat.
Dari berbagai kasus pembunuhan lainnya, kasus Marie Robards
si anak paling jahat dan durhaka sedunia akherat ini merupakan tokoh
intelektual yang mampu menyamarkan kasus pembunuhannya dengan rapi. Betapa
tidak, kasus pembunuhan atas ayahnya sendiri hampir tidak meninggalkan jejak
karena ia membunuh ayahnya dengan zat yang tidak biasa, yaitu Barium Asetat
yang biasa digunakan untuk melarutkan noda.
Namun, karena dihantui rasa bersalahnya, Marie akhirnya
mengakui perbuatannya dihadapan Polisi dan mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin
tinggal bersama ibunya. Semua ini terjadi setelah perceraian kedua orangtuanya,
dan ia tidak diperbolehkan ayahnya sama sekali untuk bertemu dengan sang ibu,
sampai akhirnya ia nekat melakukan aksi kejahatan tersebut.




















0 comments:
Posting Komentar